Management Piutang Dagang



1. Faktor yang Mempengaruhi Piutang

1.1 Kenapa Perusahaan Mempunyai Piutang

Secara umum, perusahaan akan lebih suka untuk menjual dengan tunai, karena akan menerima kas lebih cepat dan memperpendek siklus kas. Tetapi tekanan persaingan membuat perusahaan bersedia menjual secara kredit. Dengan demikian penggunaan piutang diharapkan bisa meningkatkan penjualan dan keuntungan, tetapi di lain pihak, piutang juga menyebabkan peningkatan biaya yang berkaitan dengan piutang.

1.2 Siklus Piutang Dagang

Tingkat piutang suatu perusahaan dalam suatu periode bisa dipecah ke dalam dua hal: (1) Besarnya piutang rata-rata, dan (2) Rata-rata lamanya periode pengumpulan piutang. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan mempunyai penjualan kredit rata-rata harian Rp.1 juta, kemudian lamanya periode pengumpulan piutang adalah 30 hari, maka piutang perusahaan, pada saat operasi perusahaan sudah mulai stabil, adalah: 

Piutang = 30 hari × Rp1 juta = Rp30 juta

Piutang merupakan suatu investasi yang harus dibiayai. Dana untuk membiayai investasi tersebut bisa berasal dari beberapa hal, hutang wesel atau hutang dagang.

1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya piutang dagang. Faktor tersebut bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian:

1. Eksternal : -Permintaan terhadap Produk,  -Karakteristik Industri.

2. Internal : -Kebijakan Promosi dan Iklan, -Kebijakan Piutang.

1.3.1 Faktor Eksternal

Industri merupakan salah satu determinan penting tingkat piutang dan persediaan perusahaan. Faktor kompetisi juga mempengaruhi tingkat piutang dan persediaan. Faktor musiman juga bisa berpengaruh terhadap piutang. Sebagai contoh, jika penjualan suatu produk bersifat musiman.

1.3.2 Faktor Internal

Sebagai contoh, manajer keuangan mempunyai pilihan apakah akan melaksanakan kebijakan kredit yang longgar (yang berarti akan meningkatkan piutang) atau yang ketat (yang berarti akan meminimumkan piutang). Kebijakan promosi sampai tingkat tertentu akan mempengaruhi piutang.

2. Kebijakan Piutang

Kebijakan kredit bisa dilihat sebagai trade-off antara peningkatan keuntungan dan peningkatan biaya yang berkaitan dengan piutang dagang.

2.1. Analisis Kuantitatif Manfaat dan Biaya

Marjin kontribusi dipakai untuk perhitungan tambahankeuntungan dan biaya. Tambahan biaya bersumber dari biaya investasi pada piutang. Marjin kontribusi dihitung sebagai berikut ini:

  [ (harga – biaya variable) / harga ] × 100%

2.2 Analisis Kualitatif Kebijakan Kredit

Manajer keuangan harus mencari informasi yang bisa dipakai untuk menentukan apakah seseorang atau perusahaan pantas menerima kredit. Informasi tersebut bisa diperoleh dari beberapa sumber:

1. Laporan keuangan. Laporan tersebut bisa dipakai untuk mengidentifikasi kemampuan ekonomis (kemampuan menghasilkan kas) dan juga stabilitas aliran kas yang dihasilkan.

2. Bank. Bank biasanya menyimpan informasi mengenai pelanggannya.

3. Asosiasi Perdagangan. Banyak asosiasi perdagangan yang mempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai perusahaan yang menjadi anggotanya.

4. Pengalaman Perusahaan.

5. Informasi lainnya. Perusahaan bisa memperoleh informasi melalui laporan credit rating. Setelah informasi dikumpulkan, manajer keuangan bisa melakukan analisis. Manajer bisa menggunakan pendekatan tradisional yang lebih subyektif seperti yang disebut sebagai 5C.

1. Character. Karakter berarti sejauh mana kemauan calon penerima membayar hutang-hutangnya. Karakter tidak memperhitungkan kemampuan ekonomis, tetapi niat baik.

2. Capacity. Kapasitas melihat sejauh mana kemampuan keuangan perusahaan atau individu. Kapasitas melihat kemampuan ekonomis seseorang atau perusahaan.

3. Capital. Capital melihat sejauh mana modal yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan. Pihak dengan modal yang baik mempunyai kemampuan melunasi hutang yang lebih baik, cateris paribus.

4. Collateral. Perusahaan atau pihak yang memberikan jaminan dengan aset tertentu, akan berisiko semakin kecil.

5. Conditions. Kondisi ekonomi akan menentukan kemampuan perusahaan melunasi hutangnya

2.3. Analisis Skoring (Pemberian Skor) dalam Analisis Kredit

Perusahaan kartu kredit barangkali mempunyai model tertentu (seperti model credit scoring) untuk menganalisis calon penerima kartu kredit. Model tersebut barangkali merupakan model dengan tehnik statistik diskriminan seperti berikut ini.

Y = 0.23 + 0.2 (Usia) + 0.003 (Pendapatan) + 500 (Kepemilikan rumah) ……… (1)

Kepemilikan rumah merupakan variabel dummy, yang bernilai 1 jika memiliki rumah, dan 0 jika tidak.

Untuk calon penerima kredit yang merupakan perusahaan, model semacam itu bisa dimodifikasi, misal sebagai berikut ini.

Y = 5 (Coverage biaya tetap) + 20 (Rasio quick) + 1.5 (Usia perusahaan)

Kemudian perusahaan mempunyai pengelompokkan kelas risiko sebagai berikut ini. Kelas risiko rendah jika skor di atas 50, kelas risiko menengah jika skor di antara 25 dan 50, dan kelas risiko tinggi jika skor di bawah 25.

3. Pengendalian Piutang

Jika piutang dagang menunjukkan kecenderungan meningkat, periode pengumpulan piutang meningkat, investasi dalam piutang semakin meningkat. Investasi yang semakin tinggi mengakibatkan kenaikan biaya, yang akan menurunkan profitabilitas. Manajer keuangan perlu melakukan tindakantindakan yang diperlukan jika ada indikasi semacam itu, misal memperketat kebijakan kredit. Disamping itu, kenaikan piutang yang tidak terkendali bisa mengindikasikan kondisi bisnis yang semakin buruk. Monitoring piutang dagang bisa dilakukan dengan mengawasi periode pengumpulan piutang.

Ada beberapa cara untuk mengawasi piutang: rata-rata periode piutang, aging schedule (skedul umur), dan payment pattern approach (pendekatan pola pembayaran).

3.1. Rata-rata Periode Pengumpulan Piutang (Days Sales Outstanding/DSO)

Adalah periode dari penjualan kredit terjadi sampai penjualan tersebut dibayarkan. Periode pengumpulan ingin melihat seberapa lama piutang dagang terbayar. Manajer keuangan bisa menghitung rata-rata pengumpulan piutang dengan menggunakan informasi laporan keuangan.

Perhitungan tersebut dilakukan dengan, pertama menghitung penjualan harian rata-rata sebagai berikut.

Penjualan Harian 
                     
                      Total Penjualan   
Rata-rata = -------------------------
                          365 hari

Kemudian periode pengumpulan piutang dihitung sebagai
berikut ini.

Rata-rata Periode 

                                                   Total Piutang
Pengumpulan Piutang = ------------------------------------
                                         Penjualan Harian Rata-rata

Atau dengan menggunakan formula yang langsung.

Rata-rata Periode 
                                                Total Piutang
Pengumpulan Piutang = -------------------------------
                                          Total Penjualan / 365

3.2. Aging Schedule (Skedul Umur)

Skedul umur memecah lebih lanjut informasi piutang dagang berdasarkan umur dari masing-masing rekening piutang dagang. Informasi skedul umur diperoleh dari buku besar piutang dagang, karena itu manajer keuangan bisa memfokuskan pada 10% yang tidak membayar tepat waktu, karena informasi mengenai 10% tersebut bisa digali lebih lanjut.

3.3. Payment Pattern Approach (Pendekatan Pola Pembayaran)

Manajer keuangan harus selalu memonitor posisi piutang dagang secara konstan. Dua cara di atas (periode pengumpulan piutang dan skedul umur) mempunyai kelemahan yaitu tidak memperhitungkan penjualan musiman. Periode pengumpulan piutang dihitung sebagai berikut ini.

PPR = Piutang dagang / Perputaran Piutang
                      = Piutang dagang / (Penjualan / 360) ……… (2)

Piutang dagang pada titik tertentu mencerminkan penjualan di masa lalu (misal, satu atau dua bulan yang lalu). Sedangkan penjualan mencerminkan transaksi selama dua belas tahun terakhir (penjualan tahunan). Sama dengan periode pengumpulan piutang, aging schedule juga mempunyai potensi memberikan informasi yang tidak tepat. Untuk menghilangkan pengaruh musiman, payment pattern approach (pendekatan pola pembayaran) bisa digunakan.


0 Response to "Management Piutang Dagang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel